Monday, April 14, 2008

Surat Fatimah (Dipenjara Abughabi Iraq) gemparkan kota Baghdad

Surat Fatimah gemparkan kota Baghdad

Fatimah adalah seorang saudara perempuan seorang mujahid yang terkenal didaerah Abu Gharib, yang berasal dari sebuah keluarga yang terkenal kebaikandanketaqwaannya. Suatu hari pasukan AS menyerbu rumahnya, dengan tujuan menangkapsaudaranya. Namun karena mereka tidak dapat menemukannya, pasukan AS menangkapFatimah dengan tujuan memaksa saudaranya menyerahkan diri.

Surat tulisan tangan Fatimah, baru-baru ini berhasil diselundupkan keluar daripenjara Abu Gharib, surat ini menggambarkan penderitaan para tawanan wanitaakibat perbuatan terntara AS. Segera surat ini tersebar dan menghebohkan kotaBaghdad , mengirimkan gelombang yang akan terus berlanjut ke seluruh Iraq . !

Mafkarat al-Islam berhasil mendapatkan salinan surat tersebut.
Bismillahirrahmanirrahiim.

*Say He is God the One; God the Source [of everything]; Not has He fathered,nor has He been fathered; nor is anything comparable to Him.* [Qur*an, Surat112 *al-Ikhlas*]
Saya menulis surat Al-Ikhlas ini karena mempunyai arti yang mendalam bagisaya,dan menimbulkan getaran di hati orang-orang yang beriman.

Saudaraku mujahidin di jalan Allah* Apa yang dapat kukatakan padamu? Sayakatakan, rahim-rahim kami telah terisi dengan janin akibat perkosaan yangdilakukan keturunan kera dan babi itu. Mereka telah menodai tubuh kami,meludahi muka kami, dan merobek-robek Al-Quran untuk digantungkan ke leher-leher kami. Allahu Akbar.

Tidakkah kau mengerti tentang kejadian yang menimpa kami? Betulkah kau tidaktahu ini terjadi pada kami? Kami saudaramu, dan Allah akan memintatanggungjawabmu tentang kejadian ini kelak.

Demi Allah, tidak semalam pun kami lewatkan di penjara ini kecuali merekamendatangi salah satu dari kami untuk melampiaskan nafsu setannya. Padahalkamiselalu menjaga kehormatan kami karena takut kepada Allah. Takutlah pada Allah!Bunuhlah kami bersama mereka! Hancurkan mereka bersama kami! Jangan biarkankami di sini agar mereka bisa bersenang-senang memperkosa kami, sesungguhnyaini adalah sebuah perbuatan dosa besar di sisi Allah. Takutlah pada Allah akanurusan kami. Biarkan (jangan serang) tank dan pesawat mereka. Datanglah padakami di penjara Abu Ghurayb.

Saya saudaramu karena Allah. Mereka memperkosa saya lebih dari sembilan kalidalam satu hari. Bisakah kau bayangkan? Bayangkan salah satu saudaramudiperkosa. Bersama saya ada 13 gadis, semuanya belum menikah.

Semuanya telah diperkosa didepan mata kami semua.

Mereka melarang kami untuk sholat. Mereka mengambil pakaian kami, danmembiarkan kami telanjang. Saat surat ini saya tulis, seorang diantara kamitelah bunuh diri setelah diperkosa beramai-ramai. Seorang tentara memukulnyadidada dan paha setelah memperkosanya, lalu menyiksanya. Gadis itu kemudianbunuhdiri dengan memukulkan kepalanya ke tembok penjara, karena dia sudah tidaksanggup menerima ini. Meskipun bunuh diri dilarang oleh Islam, saya memaklumiperbuatannya* Saya hanya berharap, semoga Allah mengampuninya, sesungguhnyaDiaMaha engampun.

Saudaraku, saya katakan padamu lagi, takutlah pada Allah. Hancurkan kamibersama para tentara itu, agar kami bisa beristirahat dalam damai.

Tolonglah kami, tolonglah kami, tolonglah kami* Waa Mu*tasimah!.
Surat ini telah berakhir, namun penderitaan penulisnya dan para muslimah belumberakhir.
Hatta mataa haadza s-sukuut !!

Ini yang sudah kesekian kalinya terjadi.. Entah berapa lagi akan segeramenyusul Kemaren, hari ini dan besok Begitu seterusnya.. Ya Rabb nasyku ilaikada'fa quwwatina Wa qillata hiilatina Allahumma n-shurna nashran adziimaAllahuma 'alaika bil haaula l-kuffar Allahuma 'alaika biman adzaa l-muslimin.

catatan: sebarkan agar semuanya bisa mengetahui keadaan ini. Wajazaakallahukhairan.

Wednesday, April 9, 2008

Dari Sun2surf

WEB EDITION :: Local News
Raja Nazrin: We are now at a critical time in our nation’s history

KUALA LUMPUR: The Regent of Perak Raja Nazrin Shah says Malaysians are now at a critical time in their nation’s history, one where the institutions of state – indeed, the foundations of our democracy – which we have built up since Independence are under scrutiny.

Here is the full text of his speech delivered at the Conference of Malaysian Judges:
Address by Raja Nazrin Shah, Regent of Perak at the Conference of Malaysian Judges9 APRIL 2008 at the J.W Marriott Hotel, Putrajaya

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam Sejahtera
Bismillahi Rahmani Rahim
Segala puji milik Allah, Tuhan semesta alam; Tuhan yang Maha Mengetahui lagi Maha Adil lagi Maha Saksama, lalu menyeru supaya para hambaNya melaksanakan keadilan dan sama sekali menjauhi kezaliman. Selawat dan salam ke atas Junjungan Besar, Nabi Muhammad Sallallahu Alaihi Wassalam, ahli keluarga dan para sahabat Baginda, serta para ulama dan para Tabiin; semoga memperoleh ihsan di hari kebangkitan.
Beta bersyukur ke hadrat Ilahi kerana dengan izin dari Nya juga, Beta dapat berangkat untuk menzahirkan titah di Persidangan Hakim-Hakim Malaysia pada pagi ini. Usaha yang dirintis oleh Ketua Hakim Negara menganjurkan Persidangan ini amatlah Beta hargai.

2. We are now at a critical time in our nation’s history, one where the institutions of state – indeed, the foundations of our democracy – which we have built up since Independence, are under scrutiny. The just concluded 12th General Elections has ushered in a host of changes. Among other things, it has introduced a greater degree of contestation in policy-making, legislation and administration than many would previously have thought possible. Some of these changes may be transient. Others could well be permanent. Whatever the case, the new political realities have proven to be and will continue to be challenging. They send a clear message that we cannot continue on a course of ‘business-as-usual’.

3. It goes without saying that recent revelations of improprieties in the judiciary have been extremely damaging, not least by eroding the public’s image of, and confidence in, the system of justice in this country. We must be committed to working through our current problems and to emerge the stronger and better for them. In order to do so, we must be prepared to deal with the facts as they are, and not as we would like them to be. In this respect, it is most encouraging that YAA Dato’ Abdul Hamid has himself set the tone for us in his appointment speech in December last year. In that speech, which has been described as "a breath of fresh air", he openly addressed concerns about the impartiality of judicial decisions, the appointment and promotion of judges, and their commitment to carrying out their work. He wisely pointed out that whether or not these perceptions were founded was immaterial. The mere fact that they exist is enough to do damage and warrant firm action.

4. What makes the current low regard for the judiciary especially regrettable is that it was once greatly admired. Judgments made in our courts used to be quoted across the Commonwealth. Our judges were held in high esteem for their wise and fair rulings. The late Tun Mohamed Suffian’s views about the first thirty years of the Malaysian judiciary are well known and often quoted:

"The reputation that [the Malaysian judiciary] enjoys of being able to decide without interference from the executive or the legislature, or indeed from anybody, contributes to confidence on the part of the members of the public generally, that should they get involved in any dispute with the executive or with each other, they can be sure of a fair and patient hearing and that their disputes will be determined impartially and honestly in accordance with law and justice."

5. Reputations can only be maintained if the high standards adopted are consistently adhered to. This has not always been the case. In the last two decades, judicial independence and integrity have eroded. The result is a lack of confidence in the judicial system and the complete disregard for the law by some quarters. These are dark stains on our honour and reputation and they have the potential to weaken if not destroy the nation.

6. Malaysia needs nothing short of what I would call a judicial renaissance. Without it, one of the three pillars that hold up this nation will remain in a significantly weakened state. Injustices will continue to perpetuate. Efforts at developing social cohesion and nation building will be severely compromised. A judicial renaissance is also necessary because it is one of the most important requirements for continued economic, scientific and technological progress.

7. What are the hallmarks of a judicial renaissance? I can do no better than to refer to my father, His Royal Highness Sultan Azlan Shah, whose views on the rule of law, the supremacy of the Federal Constitution, the independence of the judiciary, and the separation of powers are well known. His Royal Highness has written extensively on these subjects and he continues to do so with conviction and passion.

8. At its nucleus is respect for the rule of law, which is a universal ideal. One of my favourite quotes puts this in proper perspective:
"(The) right to be governed by laws and not by arbitrary officials is the most precious right of democracy—the right to reasonable, definite and proclaimed standards, which we as citizens can invoke against both malevolence and caprice."
This quote was taken not from an English or American judge. It was not said in a context that is alien to us. It was made in 1984 by Sultan Azlan Shah, former Lord President of the Federal Court, and to an audience made up primarily of Malaysians. The citizens that His Royal Highness was referring to are Malaysians of all creeds and colours.

9. It is worth repeating that the Federal Constitution is the highest law of the land. It is not only the law to which everyone is subject but also the authority from which power comes. Every judge, Member of Parliament, Cabinet minister, Prime Minister and, indeed, the Yang Di-Pertuan Agong himself, has taken a solemn oath to defend the Constitution. They are not supposed to serve the interests of a particular community alone. They are supposed to uphold the Constitution in its totality. The Constitution was specially crafted to cater to the pluralistic character of this country. This is not to say that it is a perfect document. It is not. It was forged out of the necessities of the time. Many of these, however, are still relevant today and Malaysians would do well to bear this in mind whenever they amend or interpret the Constitution.

10. Each time an administrative decision is taken that runs contrary to its provisions, the Constitution is in danger of being deemed irrelevant. This is why it is absolutely critical for judges to be sensitive to the spirit that underlies the Constitution. It bestows and protects the rights of all citizens and provides a basis for peace and harmony among them. Without it, we are in danger of heading down the path of sectarianism and victimisation. The courts must therefore be thoroughly objective and uncompromising on constitutional questions. In doing so, they are not only upholding justice but also strengthening the process of nation building and the integrity of the state.

11. Let me now turn to the second reason why we need a judicial renaissance. There is demand everywhere today for good governance. Unpacked, this means that the three pillars of government must not only be efficient but also highly responsive and accountable. Society and needs have become ever more complex. Citizens have become more educated. Borders are now more porous. Human capital and financial capital are mobile as never before. If good governance is not forthcoming in one country, then the best and brightest, and investment, will move to where it is forthcoming. The old model of large and rigid bureaucracies handing out government largesse has also become outdated. And governments can no longer just offer their citizens material wealth. The intangible benefits of development, including an absence of corruption, abuse and repression, and the protection and enlargement of individual rights and freedoms, are now equally important goods that citizens demand and which governments must deliver.

12. It would be wrong to think for one moment that Malaysians can achieve great things without a properly functioning judiciary. The most politically stable and economically successful countries are ones where the law matters a great deal and where the judiciary is highly respected. We must not be fooled into believing that to be monetarily rich, only practical expediency matters and that judicial integrity and independence do not. I say ‘monetarily rich’ and not ‘developed’ because there is a very big difference between the two. I do not believe it is possible to be developed without a highly respected judiciary.
Honourable judges:

13. The present climate presents us with an excellent opportunity to press on with much needed changes. We should not seek to just recapture past glories but must strive for greater achievements. Before we can start to soar in the skies, however, we must have a firm footing on the ground. Here, I am persuaded by the many voices that have argued that the most basic first step we must take is to ensure that judicial power is once again vested in the judiciary. The judiciary must be restored to the position that it had in the Constitution from the time of Merdeka until twenty years ago. Unless this is done, the doctrine of the separation of powers, which underscores our democracy, will remain effectively muted.

14. Until judicial power is reinvested in the judiciary – in much the same way that executive power is invested in the Yang di-Pertuan Agong and the Cabinet , and legislative power in Parliament – it will be difficult to convince anyone, not our citizens and not the world community, that we are a nation governed by the rule of law. Judicial review of administrative practices is an essential aspect of being a nation of laws. With the positive mindsets now in place, I am sure that the executive and legislature will continue to view the judiciary in a proper and balanced perspective. The judiciary, filled with men and women of great insight into the law will, I am confident, exercise its oversight to ensure that the exercise of power is not exceeded, that correct processes are adhered to and that outcomes are just.

15. The courts have unfettered powers to interpret the Constitution, to construe laws, and to declare any law or administrative action that is inconsistent with the Constitution to be void. We seem to have forgotten that the judiciary can be a powerful and constructive force in nation building. For laws, once enacted, are sterile unless they are properly interpreted. The courts have the responsibility for ensuring precisely this. Preserving and protecting the Constitution require judicial courage. Judges need to display the necessary courage when interpreting our supreme law, the Constitution.

16. Second, an important feature of a judicial renaissance is that only men and women of the highest integrity and intellect are elevated. The appointment of Tan Sri Malek as President of the Court of Appeal in 2004 was a step in the right direction and, as observed by the President of the Malaysian Bar Council, Ms Ambiga Sreenevasan, a "much needed shot in the arm for the judiciary". The many tributes bestowed at his untimely passing are proof of the high regard in which he was held. I know there are many men and women of integrity and intellect present here this morning who have dedicated their lives in upholding the sanctity of the law and in dispensing justice without fear or favour. Some of you have gone through difficult times. You have discharged your duties with great dignity and pride. For this I join the many others in saluting you for your dedication and commitment. You have done this nation proud. Your continued contribution and service gives great hope and impetus for the future of the judiciary.

17. Third, it may also be an opportune time to review the way judicial appointments and promotions are made. The many calls for a more transparent mechanism, one that is in line with other developed countries, should be given serious attention. There is merit in the suggestion for the establishment of a Judicial Commission that will make recommendations to the Prime Minister who, in turn, consults the Conference of Rulers. On the latter point, I am happy to note that in recent years, there has been a greater willingness on the part of the Prime Minister to consult the Conference of Rulers in a meaningful way. This is very much in keeping with the spirit of the Constitution and, I believe, leads to the building up of further confidence in the judiciary.

18. Fourth, it may also be the right time for the Federal Court to take a less restrictive approach in reviewing judicial decisions that manifestly involved miscarriage of justice. There is no denying that some decisions of the apex court in recent years have caused great concern to the legal profession, businesses and the public at large. We should not allow these decisions to remain in our annals. I am aware that the principle of finality of decisions is vital in any judicial system. Litigants are entitled to arrange their affairs in the sure knowledge that there is an end to their litigation upon decision of the final appellate court. But justice must be the overriding objective. The attainment of justice and the rectification of gross injustice is the raison d’etre of any civilised legal and judicial system. I am confident that in a judicial renaissance the proper balance between finality and justice will be maintained by His Majesty’s judges.

19. Fifth, it may also be the time to introduce mechanisms so as to facilitate the acquisition of knowledge by judges to meet the growing global challenges in specialised and new areas of the law such as Internet and Information Technology, Maritime and Arbitration, and in the more traditional subjects like Constitutional Law and Human Rights. The importance of continuing legal and judicial training cannot be over-emphasised.

20. Sixth the establishment of a commercial court with specially trained judges may be an area worth considering. As an example of how seriously this matters in today’s world, consider the case of Dubai. The civil and commercial court at the Dubai International Financial Centre has been in operation since 2004. Early this year, six new appointments of illustrious international judges were made to give it further standing and credibility. Sir Anthony Evans was selected to be the Chief Justice, alongside five others. Among them was Malaysia’s own Tan Sri Siti Norma. In addition to being the only Southeast Asian, she is also the first female judge in the United Arab Emirates. She is another clear example of Malaysia’s ability to produce judges of world-class ability and reputation.

21. Similarly, this year, the government of Qatar appointed Lord Woolf, former Chief Justice of England and Wales, as President of its Financial Centre’s civil and commercial court. At the same time, it selected another eminent Briton, William Blair QC, as Chairman of the Regulatory Tribunal. It further appointed eight other distinguished international jurists and lawyers to serve in both these institutions. Qatar’s rationale was simple: International financial and commercial organizations must be satisfied that the financial centre upholds the rule of law.
Honourable judges:

22. Jurists like yourselves are the real soul of any legal system. You are its true substance and the rest are mere decoration. We should never mistake form for substance. Some of the most tyrannical regimes have complex laws, batteries of judges and lawyers and palaces of justice, complete with grand regalia and ceremonies. These are all mere symbols meant to give a thin veneer of legitimacy to illegitimate and unjust practices. They say absolutely nothing about the substance and quality of the justice that is meted out. Laws can be made that institutionalise prejudice and biasness. Courts can make decisions that violate the very principle of natural justice.

23. Of course any problem can be ‘solved’ in the abstract. While we relentlessly pursue the ideal of justice, we must inoculate ourselves with heavy doses of realism. We must be aware that efforts to compromise legal principles and undermine judicial independence and authority are virtually universal. There is a perpetual contest between the political executive and the courts everywhere. There is constantly a threat of business interests tipping the scales of justice in their favour. Our efforts cannot therefore be partial and half-hearted. They cannot last mere months or even a handful of years. No matter how great the legal institutions we build, once we stop maintaining them, the surrounding jungle of abuse will start to reclaim them.

24. The rule of law, the independence of the judiciary, and the separation of powers are features of our judicial system that we must constantly and tirelessly struggle to uphold. Even in England, the birthplace of the law that Commonwealth countries practice, measures are still being undertaken after more than nine hundred years to improve the autonomy, competence and transparency of the judiciary. We cannot be faulted for not having a perfect legal system for no country can make that claim. We can, however, be faulted for want of trying. The judicial renaissance that is emerging must therefore not be allowed to roll back. We must constantly fuel the engines of this renaissance.

25. Change is never easy. Resistance must always be assumed. The inertia of the status quo is very strong and this is especially true when the situation is serious and the changes required are huge. There will be the ever-present temptation to undertake just incremental and cosmetic modifications. We need to recognise that these are not sufficient for the judicial revitalisation and renewal that this country needs and deserves.

26. I mentioned at the outset that as recent events continue to unfold, the degree of political contestation in this country will increase. Some will be for the better and some, where it leads to conflict, will be for the worse. Whatever the case, this is the system that we chose for ourselves five decades ago and which has proven and performed with distinction in the past. In the current environment, the opinion and decisions of men and women of reason, wisdom and balance in all spheres of life will be in even greater demand than before. This is especially true of the courts of law.

27. If the judiciary is filled with the highest calibre of men and women that this nation has to offer, not only in terms of ability but also values, there is nothing to fear. We must never fear truth, knowledge and wisdom. We should always fear their opposites. I therefore urge you to press on. May the judicial renaissance grow and flourish under your careful hands and watchful eyes.

28. Semoga Persidangan ini dapat berlangsung dalam suasana berterus-terang berlandaskan semangat mahu membina imej dan perkhidmatan kehakiman yang berintegriti tinggi, agar para hakim dan mahkamah di Negara ini mendapat kepercayaan rakyat jelata serta dihormati diperingkat antarabangsa.
Wabillahi taufik walhidayah
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Updated: 03:11PM Wed, 09 Apr 2008
Printable Version Email to a Friend

Tuesday, April 8, 2008

Juga dari Blog Pemuda Pelapis


Pak Lah -vs- Dr Mahathir - Dari Sudut Punca dan Fakta
Apa yang berlaku akhir-akhir ini telah menarik minat sebilangan besar rakyat dan juga parti-parti lawan. Serang menyerang kenyataan dan berbalas kritikan antara pemimpin nombor satu yang masih berkuasa dengan bekas pemimpin nombor satu yang telah berundur.Apakah rasionalnya? Apa kata kita rujuk kepada punca dan fakta sebenar.Kenapa Tun Dr Mahathir agak sering muncul dan mengkritik kepimpinan Pak Lah sejak akhir-akhir ini? Jawapannya ada pada hampir semua orang termasuklah anda dan juga saya. Tun yang mengeluarkan kenyataan demi kenyataan sudah pasti beliau lebih arif tentang apa yang diperkatakannya. Malahan Pak Lah sendiri pun tahu kenapa dia dikecam dan dikritik hebat oleh Tun. Begitu juga semua barisan Kabinet dan ahli-ahli Majlis Tertinggi. Malahan saya turut "tabik spring" kepada golongan remaja belasan tahun yang masih muda mentah apabila secara kebetulan terdengar mereka bijak membuat ulasan.Inilah rasional yang saya ingin kongsikan kepada semua pembaca. Bukan soal mahu memenangi sesiapa atau pun mahu menyalahi sesiapa tetapi jika kita merasakan kita manusia atau insan yang waras, kita perlu rujuk kepada punca dan menilai kepada fakta. Jangan berlandaskan kepada emosi.Kepimpinan Pak Lah Secara Ringkas dan UmumSejak Dato' Seri Abdullah Ahmad Badawi mengambil-alih kuasa kepimpinan secara rasmi pada 31 Oktober 2003 daripada Tun Dr Mahathir Mohamad, Pak Lah adalah pemimpin nombor satu negara yang menerajui barisan Kabinet. Ertikata lain, Pak Lah adalah Perdana Menteri dan harus bertanggungjawab secara langsung dengan sepenuhnya untuk memikul satu beban yang amat besar bagi mentadbir negara.Jatuh bangun, maju mundur dan apa sahaja kemelut yang melanda adalah atas kebijaksanaan Pak Lah untuk menerajuinya dan juga mengatasinya dengan dibantu barisan Kabinet yang bertindak sebagai jentera kerajaan di peringkat tertinggi. Apa pun Pak Lah adalah "Master Mind" dan segala arahan datangnya daripada Pak Lah.Jika ada pun Menteri Kabinet lain yang memberi arahan tetapi mesti mendapat persetujuan Pak Lah terlebih dahulu dan barulah tindakan dapat dilakukan.PRU11 pada tahun 2004 merupakan pilihanraya umum pertama di bawah kepimpinan Pak Lah. Yang pasti, strategi pelaksanaan PRU11 tersebut telah disusunatur dengan baik sebelum Tun mengundurkan diri dan hanya perlu diteruskan oleh Pak Lah sahaja. Kalau ada perubahan pun mungkin tidak banyak yang perlu dilakukan Pak Lah. Hasil PRU11 itu telah membawa satu kemenangan besar yang terus berpihak kepada BN. Ia tidak dinafikan atas kesan pembangunan dan pemodenan yang dibawa oleh Tun ketika menjadi Perdana Menteri ke-4 dan bukan atas dasar kewibawaan Pak Lah.Rakyat memandang kemenangan itu belum boleh diambilkira untuk diukur dan dinilai sebagai kewibawaan Pak Lah kerana baru setahun jagung peralihan tampuk kepimpinan daripada Tun pada ketika itu.Namun Pak Lah telah mula dinilai selepas pembentukan kabinet baru beliau dengan kemenangan PRU11 tersebut sehinggalah ke tarikh PRU12 pada 8 Mac 2008 yang lalu. Selama tempoh lebih kurang 4 tahun 4 bulan Pak Lah sebagai Perdana Menteri Malaysia, sebagai Presiden Umno dan juga Pengerusi Barisan Nasional, rakyat mula membuat penilaian sebenar terhadap kewibawaan Pak Lah untuk dibandingkan dengan kewibawaan Tun Dr Mahathir yang telah memegang jawatan tersebut selama 18 tahun.Rumusan kebanyakan rakyat mendapati bahawa kerajaan yang diterajui Pak Lah agak lembap, lembik dan longgar. Tidak padat dan padu sebagaimana pemerintahan di era Tun dahulu yang lebih menonjol dan berwibawa.Pak Lah telah gagal menyelesaikan banyak isu-isu rakyat serta mengabaikan kepentingan ekonomi rakyat. Banyak projek pembangunan tidak seimbang dan tidak memberi apa-apa kesan manfaat kepada rakyat. Yang mendapat imbuhan hanyalah orang-orang korporat dan untuk kepentingan pemimpin-pemimpin yang berkuasa serta individu-individu tertentu sahaja.Projek-projek IKS dan perniagaan hanya sekadar "indah khabar dari rupa" di mana pengumuman dan pelaksanaannya yang tidak selaras. Rakyat sendiri dinafikan apabila memohon meskipun syarat-syarat telah dipenuhi. Terlalu banyak birokrasi berlaku di peringkat agensi IKS yang langsung tidak mampu dipantau Pak Lah dan barisan Kabinet Pak Lah. Tiada sebarang tindakan diambil walaupun aduan telah dibuat oleh rakyat.Projek-projek besar diutamakan untuk golongan korporat yang telah sedia kaya raya di samping menumpukan perhatian lebih kepada pelabur-pelabur asing untuk diberi keutamaan yang melampaui batasan sehingga rakyat memberontak.Begitulah antara luahan hati rakyat yang tidak berpuashati dengan kepimpinan Pak Lah.Lebih buruk lagi keadaan apabila secara tiba-tiba dan mendadak munculnya pula Khairy menantu Pak Lah pada tahun 2004 itu, yang diangkat mudah sebagai Ketua Pemuda Umno Bahagian Rembau. Tidak habis di situ tetapi dinobatkan pula sebagai Ketua Pergerakan Pemuda Umno Pusat yang diisytiharkan sebagai menang tanpa bertanding untuk jawatan berkenaan.Adakah ini satu tindakan yang betul? Kenapa bayangan Khairy tidak menjelma lebih awal sebelum Pak Lah menjadi Perdana Menteri? Ini semua adalah tanda tanya rakyat yang tidak berpuashati dan masih belum dijawab oleh Pak Lah sehingga kini secara terbuka sebagaimana Pak Lah membalas kritikan Tun semalam (6 April 2008). Daripada Khairy juga tiada jawapan.Di sinilah sebenarnya telah mula berputik kemarahan rakyat yang merasakan Pak Lah tidak adil, tidak bijak mentadbir kerajaan dan mementingkan diri sendiri dan keluarga. Ekoran daripada peristiwa ini, segala langkah dan tindak tanduk Pak Lah mula dinilai rakyat. Pantang ada kesilapan atau kelemahan maka rakyat akan mengambilkira. Salahkah rakyat menilai? Bukankah Malaysia mengamalkan demokrasi?Isu-isu lain yang dipantau rakyat seperti isu "Scomi Group" turut mendapat perhatian rakyat kerana ramai yang tahu bahawa satu-satunya anak lelaki Pak Lah terbabit dan ada kepentingan di situ.Komen Pak Lah Atas Prestasi Buruk Umno dan BN Pada PRU12Di antara isu-isu yang diutarakan Pak Lah terhadap prestasi buruk Umno dan BN pada PRU12 - 8 Mac 2008 yang lalu adalah:1. Berlakunya sabotaj daripada ahli-ahli Umno sendiri termasuklah ahli-ahli parti komponen BN yang lainnya.2. Kenyataan, kritikan dan kecaman Tun Dr Mahathir Mohamad yang cuba memecah-belahkan perpaduan.3. Kes Hindraf di mana kaum Hindu telah mengalih pandangan untuk menyokong parti lawan.Apa yang telah disebutkan Pak Lah terhadap ketiga-tiga isu tersebut sebenarnya tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan yang kukuh. Rakyat tidak mahu mendengar alasan demi alasan daripada pemimpin nombor satu negara setelah apa yang berlaku. Rakyat melihat di sudut pengurusan dan pentadbiran parti yang tidak betul sejak mengambil-alih pucuk pimpinan.Jika pengurusan parti ditadbir secara berhemah dan dengan penuh ketelusan maka soal sabotaj tidak akan timbul. Kita wajib mengkaji daripada punca asas, kenapa sabotaj boleh berlaku? Jawapannya kerana ahli-ahli bawahan di akar umbi tidak berpuashati di atas kepimpinan Pak Lah dan barisan kepimpinan tertinggi yang ada.Apakah perlu untuk menuding jari kepada orang lain? Siapakah yang memimpin parti? Siapa pula yang memberi arahan dan membuat keputusan?Isu kedua yang kononnya Tun Dr Mahathir Mohamad cuba memecah-belahkan perpaduan adalah tidak betul sama sekali. Sebagai rakyat di dalam sebuah negara demokrasi, saya menyelar kenyataan Pak Lah dan semua pemimpin-pemimpin Umno yang tidak bertanggungjawab menyokong kenyataan tersebut. Mereka yang menyokong kenyataan itu adalah pengampu-pengampu yang cukup hebat yang ada agenda tersendiri.Bodoh sangatkah Tun seorang bekas Perdana Menteri mahu melihat negara huru-hara dan hancur? Ke manakah jasa Tun selama 18 tahun mentadbir kerajaan? Adakah kenyataan itu hanya untuk mendapat satu kepuasan diri kerana merasa marah atas segala kritikan Tun? Apakah dengan kenyataan itu mampu mempengaruhi minda rakyat? Kenyataan itu dinilai tidak lebih daripada "meminta simpati rakyat".Sukakah Pak Lah dan semua barisan yang menyokong kenyataan itu untuk dilabelkan oleh rakyat sebagai pemimpin yang tidak bertanggungjawab atau sebagai "kacang lupakan kulit?". Kenapa tidak berfikir sebelum mengeluarkan sebarang kenyataan-kenyataan tidak berasas yang hanya mampu digelak-tawakan oleh rakyat?Tidak dinafikan rakyat bahawa Tun Dr Mahathir adalah seorang pemimpin yang "terbilang" kehebatannya. Banyak bukti nyata yang dapat dinilai rakyat. Tun mendapat sokongan dan pengaruh yang besar atas usaha beliau memajukan negara dan memartabatkan Malaysia di mata dunia.Tun dinilai rakyat di atas kepintaran beliau yang berjaya menangani krisis matawang yang meruncing pada suatu ketika. Kalau pemimpin Yahudi mampu menghormati Tun, kenapa Pak Lah dan barisan kepimpinannya tidak ada rasa hormat? Memang Tun seorang yang hebat dan kehebatan yang ada pada Tun tidak ada pada Pak Lah dan pemimpin-pemimpin lain.Kenapa tidak mahu menerima segala kritikan dan kecaman Tun itu sebagai satu "teguran seorang bapa kepada anak?" Beliau menegur kerana dia merasa bertanggungjawab memberi laluan kepada Pak Lah menjadi Perdana Menteri dan tidak menyangka sebegini teruk kepimpinan Pak Lah sehingga 5 negeri baru jatuh kepada pembangkang dan masih gagal merebut balik Kelantan.Mujurlah Tun Dr Mahathir telah sempat menyatukan parti-parti di Sabah dan Sarawak ke dalam BN yang mampu menyumbangkan kemenangan mudah (tipis). Apa kata kalau dulu Tun tak lakukan usaha itu? Pak Lah boleh jawab, Najib boleh jawab dan semua pemimpin yang ada pun boleh jawab, di mana kita sekarang agaknya?Sudah tentulah duduk di bawah tampuk pemerintahan kerajaan campuran pembangkang. Kenapalah pemimpin yang ada tak mampu nak fikirkan tentang perkara ini? Di sini sekali lagi rakyat nampak sebagai usaha dan jasa Tun dan beliau campur tangan dalam keadaan sekarang bukan kerana dia masih gila kuasa tetapi untuk menyelamatkan keadaan supaya prestasi yang lebih buruk tidak akan berlaku. Adakah nak kena tunggu ianya terjadi baru pucuk pimpinan mahu sedar? Renung-renungkanlah!Baru satu penggal yang tidak sampai pun 5 tahun Pak Lah memerintah negara, perkara ini boleh berlaku. Apakah wajar kenyataan Pak Lah sebelum ini yang masih meminta diberi masa lagi? Dua tiga tahun pertama Pak Lah memimpin, Tun hanya menyepi seribu bahasa tanpa sebarang kritikan terhadap Pak Lah tetapi malangnya rakyat yang menilai dan melabelkan Pak Lah sebagai "tidur". Apakah salah apabila Pak Lah dikejutkan melalui kritikan hebat oleh Tun agar bingkas bangun dan bertindak sesuatu? Apakah Pak Lah masih lena dibuai mimpi dengan apa yang telah berlaku?Buktikan sesuatu usaha yang realistik untuk mampu menambat hati rakyat dan bukan dengan banyak bercakap atau menabur janji-janji kosong bagi menyedapkan hati rakyat semata-mata. Rakyat menilai segala kenyataan-kenyataan tidak berasas itu sebagai longgar dan rapuh. Begitulah juga dengan kes Hindraf. Persoalannya, kenapa perkara ini boleh berlaku?Menuding jari tidak menyelesaikan masalah melainkan bertanggungjawab sepenuhnya dan mendengar suara ramai yang meminta Pak Lah supaya "berundur dengan penuh hormat."Jangan bersikap sebagaimana perumpamaan yang mengatakan, "GAJAH DEPAN MATA KITA TAK NAMPAK TAPI KUMAN SEBERANG LAUTAN KITA NAMPAK".Ini bukan soal desakan tetapi atas dasar tanggungjawab kerana prestasi yang "teramat buruk" di dalam sejarah perjuangan Umno. Jika jujur sayangkan Umno/BN dan negara, buktikan kepada rakyat dengan menunaikan apa yang rakyat pinta. Rakyat tidak minta wang ringgit atau harta Pak Lah, cukuplah jika Pak Lah berundur. Adakah Pak Lah berterusan mahu bersikap "menafikan?".Banyak lagi punca dan fakta jika mahu dihuraikan.Bukti Luahan Hati RakyatHari ini rakyat dan pemimpin mula berdialog dan berbahas di alam maya dengan adanya blog pemimpin Dr Mohamad Khir Toyo yang telah mengambil satu langkah bijak untuk mendekatkan diri dengan rakyat bagi mendapatkan maklumbalas dan mendengar suara hati rakyat.Topik hangat yang diutarakan oleh bekas Menteri Besar Selangor itu adalah "Kepimpinan Negara dan Isu-isu Rakyat". Kita boleh rujuk blog berkenaan dan cuba memahami setiap komen dan pandangan rakyat yang diluahkan di situ.Ternyata rakyat amat tidak berpuashati dengan kepimpinan yang ada. Bukan kerana rakyat bencikan Pak Lah tetapi kerana rakyat sayangkan negara dan cintakan perjuangan parti. Rakyat semakin bijak menilai dan mereka mahukan perubahan kepada pucuk pimpinan demi merealisasikan "Wawasan 2020" sebagai sebuah negara maju di dunia.
Posted by Pemuda Pelapis at 1:45 AM 0 comments

Wednesday, April 2, 2008

Apa Terjadi...

Bekukan waktu itu wahai sang pujangga gambar,
Agar tercetus sebuah kesedaran di jiwa seorang puteri,
Agar ledakan hatinya mengalir ke darah menjadi revolusi,
Dan bangkitlah sebuah revolusi untuk mereka mengenal diri sendiri.

Bekukan waktu itu wahai sang pujangga gambar,
Hentikan ia di dalam lensamu,
Kerna gambar itu akan menunjukkan segala kelemahan dimasa ini,
dan kita perlu merubahnya,
Warnakan gambarmu dengan masyarakat ini yang hidup harmoni
Tanpa membezakan fahaman Agama dan keturunan,

Maka sahabatku seorang pujangga gambar,
Warnakan kembali sejarah bangsaku itu,
Agar mereka tahu kitakan kuat dengan agama ini,
Jernihkan kembali makna cinta yang lunyai dikotori
Mereka yang tidak ertipada sebuah perjuangan bangsa ini.

Tuesday, April 1, 2008

What to do, Where to start & How to do...

Yeah.... inilah soalan2 yang selalu bermain diminda kita bila kita rasa kosong dalam diri. Dan bila kita ada azam untuk merubah sesuatu dalam diri kita dan disekitarnya, kita mula tertanya... apa aku patut buat ekk...Bila dah terpikir apa patut dibuat, kita terpikir lagi macammana pulak nak mulakan... eishhh... lagi satu soalan2 perubah semangat ni datang... Bila dah carik jawapan pada soalan tu, datang pulak soalan ketiga, apa yang patut aku buat dulu......Bila dah banyak bende yang kita nak pikir sendiri, mulalah Setan bawak garpu tu dok mencucuk... "Buat apa ko nak pikir2, buat susah je, buat dek je macam selalu kan bagus, tak pening2 kepala". Dan sinar kegembiraan pun terpancarlah dalam wajah kita2 ni dan bila mengenangkan kalau tak buat lagi senang kerja kita.So, kita pun lupakan je la hasrat murni nak buat perubahan.

So, bila pepeperangan begini selalu terjadi dalam hati, lama2 takde ape perkara pun yang boleh diubah dalam diri kita. Kita akan kekal sebegitu adanya sehingga ada tindakan dari pihak luar yang mengubahnya secara rela mahupun terpaksa. Tak kisahla samada perubahan tersebut membawa kebaikan pada diri sendiri ataupun lebih banyak balanya. Abis nak buat cemane, terima jelah ataupun meyalak la pada gunung minta buat perubahan. Setakat dengan menyalak membabi buta, apalah pekdahnya atau berkesannya... Fikir2kanlah...

Aktiviti PU3